Pages

Selasa, 03 Juni 2014

Peranan Universitas Islam dalam Membangun Tradisi Keilmuan

Peranan Universitas Islam dalam Membangun Tradisi Keilmuan


Allah swt. memerintahkan kaum Muslimin untuk selalu menuntut ilmu, demikian pula dengan Rasulullah saw. yang menganjurkan para pengikutnya untuk menuntut ilmu walau sampai ke negeri Cina. Hal inilah yang melandasi Institut Studi Islam Darussalam pada khususnya, dan dunia Islam pada umumnya untuk memberikan perhatian yang besar pada bidang keilmuan dan pengajaran. Namun demikian, sejak permulaan abad kesembilan belas, universitas-universitas di dunia Islam mulai mengalihkan perhatian mereka ke Barat dan berusaha mentransfer ilmu pengetahuan modern dari mereka. Kita, dalam masa yang cukup lama, seakan menjadi tamu di perjamuan pendidikan dan riset Barat. Bahkan sampai saat ini Barat masih membuktikan diri sebagai yang terbaik dalam bidang ini.
Pada akhir-akhir ini, universitas-universitas yang didirikan di Timur telah mencapai kemajuan yang cukup pesat sehingga dapat memajukan negaranya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Lembaga-lembaga pendidikan dan Universitas-universitas Islam dalam sejarahnya memiliki peran sentral dalam membangun peradaban dan berdialog dengan peradaban lain. Dari aktifitas sederhana memahami (tafaqquh) wahyu al-Qur’an di lembaga al-Suffah di Madinah Islam berkembang menjadi peradaban besar yang memberi rahmat bagi peradaban dunia. Tidak berlebihan jika George F Kneller menyatakan bahwa “Bala tentara Islam…tidak berbekalkan apa-apa secara kultural selain dari Kitab Suci dan Sunnah Nabi. Tapi karena inner-dynamic-nya, maka ajaran Islam itu telah menjadi landasan pandangan hidup yang dinamis yang kelak…memberi manfaat untuk seluruh umat manusia.” George F Kneller, Science as a Human Endeavor, New York: Columbia University Press, 1978, hal. 3-4).
Dibalik pernyataan itu sejatinya terdapat fakta-fakta sejarah bahwa peradaban Islam  berkembang diiringi oleh aktifitas keilmuan. Masjid-masjid di zaman dinasti Umayyah, Madrasah Nizamiyah di Baghdad, Zaitunah di Tunis, Qarawiyun di Maroko, al-Azhar di Mesir merupakan contoh yang hidup yang diantaranya masih terus memberi kontribusi terhadap pembangunan peradaban. Meski peran yang dimainkan lembaga-lembaga pendidikan dan unviersitas Islam tersebut berbeda antara satu dengan lainnya, namun semua berorientasi sama yaitu membangun peradaban Islam dan menjadi rahmat bagi alam semesta. 
Kini universitas dan lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan internal dan eksternal yang tidak ringan. Secara internal, universitas dan lembaga pendidikan Islam menghadapi problem penurunan kualitas keilmuan dan kekurangan innovasi sains dan teknologi, inefisiensi manajemen dan kelembagaan, kelemahan mekanisme penyebaran ilmu pengetahuan yang kesemuanya mengakibatkan lemahnya peran alumninya dalam mengembangkan potensi umat Islam. Secara eksternal universitas dan lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan dan tuntutan yang diakibatkan oleh arus globalisasi yang membawa serta paham-paham yang justru melemahkan atau bahkan menghilangkan identitas, visi dan misi universitas dan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Paham-paham seperti materialism, sekularisme, liberalism, dekonstruksionisme, relativisme dan lain sebagainya mulai memasuki wacana studi Islam.
Untuk menghadapi tantangan internal dan eksternal, kerjasama di antara lembaga pendidikan dan universitas Islam dalam berbagai bidang studi harus dikembangkan dan diperkuat. Serta reorientasi dan revitalisasi Universtias Islam dengan penekanan khusus pada peningkatan kerjasama demi membangun tradisi keilmuan dalam Islam dikalangan universitas Islam sangat diperlukan.

Jalaluddin Rumi, Penyair Sufi Terbesar dari Konya

Dua orang bertengkar sengit di suatu jalan di Konya. Mereka saling memaki, “O, laknat, jika kau mengucapkan sepatah makian terhadapku, kau akan menerima sepuluh patah balasannya.” Jalaluddin Rumi, yang kebetulan lewat, mendengar pertengkaran itu. Dia mendatangi mereka dan berkata, “Saudara! Persediaan makian macam apa pun yang kalian punyai tumpahkanlah atas diriku. Kalian boleh melemparkan beribu makian padaku, dan kalian tak akan menerima balasan satu pun.” Dua orang yang bertengkar itu lupa akan segala makian mereka, bersujud di kaki Rumi dan mereka pun berdamai.

     Jalaluddin Rumi, penyair Sufi terbesar yang pernah dilahirkan dunia, yang karyanya Mathnawi termasyhur, lahir di Balkh pada 1207 M.  Dia berasal dari keluarga ulama besar, keturunan Khalifah Islam pertama. Kakeknya, husain Balkhi, adalah sarjana kebatinan yang begitu dihormati, sehingga Sultan Muhammad Khwarizm Shah mengawingkan anak perempuannya dengannya. Dengan demikian, penguasa Khawarizm adalah kakek Jalaluddin Rumi dari pihak ibu.
    Syeikh Bahauddin Balki, ayah Jalaluddin Rumi, diakui sebagai ahli ilmu pengetahuan terbesar dari zamannya di dunia Islam. Muhammad Khawarizm Shah menjai murid Syikh Bahauddin, dan acap kali mengunjunginya. Dia memberikan pendidikan dan memberi kuliah tentang segala persoalan.
      Tetapi, oleh persaingan di Istana, Syikh Bahauddin meninggalkan Balkh, diikuti oleh ratusan muridnya dan para pengikutnya bermigrasi ke arah Barat. Dia melewati Nishapur, dan pada tahun1212 bertemu kepada Syeikh Fariduddin Attar. Menurut penulis-penulis kronik, Fariduddin memeluk Jalaluddin, dan meramalkan kebesarnnya, mendoakan serta memberi sebuah salinan dari sajaknya, Asrar Nama. Dari Nishapur, Syeikh Bahauddin tiba di Baghdad, tempat dia bermukim beberapa tahun, memberi kuliah tentang soal-soal agama. Duta dari penguasa dinasti Saljuk, Kaikobad, yang juga menghadiri kuliah-kuliah itu, memujikan pengetahuan Syeikh itu yang dalam kepaa rajanya. Raja Kaikobad ikut menjadi murid Syeikh Bahauddin. Dari Baghdad, Syeikh dan rombongannya pergi Hejaz, kemudian ke Zanjan, dan tinggal setahun di sana. Kemudian, syeikh berangkat ke Larinda (Kirman), tempat dia menetap tujuh tahun. Di sini dia mengawinkan anaknya Jalaluddin Rumi dengan seorang wanita bernama Gauher, yang kelak melahirkan dua putra, Sultan Veld dan Alauddin. Penguasa Saljuk, Alauddin Kaikobad, seorang pengagum Syeikh, mengundangnya untuk tinggal di ibu kota. Menyetujui undangan itu, maka Syeikh pun berangkat ke Konya (Inconium), ibu kota kerajaan Saljuk. Raja Seljuk dan orang-orang istananya menyambut Syeikh di luar kota, dan mengiringnya dengan berjalan kaki. Di kota inilah Syiekh Bahauddin ,ayah Maulana Jalaluddin, wafat pada tahun 1231 M.
     Jalaluddin mendapat pendidikan pertam adari ayahnya yang terpelajar. Di antara para murid ayahnya, ada seorang sarjana terkenal, Sayyid Burhanuddin Muhaqqiq. Jalaluddin dipercayakan ke tangan sarjana ini; dia mengajarkan Maulana semua soal dunia. Setelah ayahnya meninggal, Jalaluddin Rumi, yang berusia 25 tahun, pergi ke Damaskus dan Aleppo, dua pusat ilmu pengetahuan, untuk mendapat pendidikan lebih tinggi di masa itu. Sayyid Bahauddin juga mengajari Jalaluddin adat dan pengetahuan mistik. Sesudah gurunya meniggal, Jalaluddin jatuh kedalam pengaruh – dan mendapat pendidikan – dari Shams-I-Tabriz, “tokoh aneh’ yang digambarkan Nicolson: “Mengenakan pakaian hitam yang kasar, yang melintas cepat sesaat dihadapan kita, dan menghilang secara tragis.”
       Maulana Jalaluddin Rumi menjadi seorang sarjana besar, seorang putra yang pantas dari ayah yang terpelajar, dikelilingi oleh sarjana-sarjana dan pengikut-pengikut yang tertarik dari bagian-bagian jauh dunia Islam.  Di sini, pada tahun 624 H, dia bertemu dengan Shams-I-Tabriz. Perjumpaan ini terbukti merupakan titik balik dalam kehidupannya. Dari seorang guru duniawi, Rumi menjadi pertapa. Ia melemparkan semua kemeghahan dan kesenangan duniawi, mengundurkan diri kekehidupan sembahyang dan doa, dan ketaatan kepada guru kebatinannya, Shams-I-Tabriz. Perubahan tiba-tiba dalam kehidupannya ini menimbulkan kegelisahan di antara murid-muridnya. Untuk menenangkankegelisahan mereka, Shams-I-Tabriz menhilang dari Konya pada satu malam. Perpisahan dengan guru itu membuat Maulana tidak senang sama sekali, dan memberikan reaksi terhadap kejadian ini dengan meniggalkan keduniaan. Hal ini menimbulkan kekacauan yang dalam di kalangan keluarganya. Karena itu, putranya tertua diutus untuk mencari Shams-I-abris. Dia membawanya kembali ke Koyna dari Damaskus. Guru dan murid-muridnya tetap bersama-sama untuk sementara, dan pada suatu hari, karena dijengkelkan oleh sementara murid Maulana, Shams-I-Tabriz sekali lagi menghilang dari Konya untuk selam-lamanya. Pencarian yang tuntas terhadap wali itu, seklipun Rumi sendiri ambil bagian, berakhir dengan kegagalan.
                  Menghilangnya guru kebatinan ini mebawa perubahan besar dalam hidup Rumi, dan memberi ketajaman pada sentimen-sentimannya dan naluri inspirasi puitiknya, yang selama ini terpendam. Transformasi kerohanian yang revolusioner ini mencapai klimaks dengan curahan puitik yang tak terkendalikan. Awal dari Matnawi, karya abadinya, dikerjakan dalam periode ini.     
Jalaluddin Rumi telah membukakan pintu bagi kelahiran sebarisan ahli mistik, yang kemudian disebut Jalalia. Yang termashur di antara mereka, Syeikh Bu Ali Qalander dari Panipat, tinggal bersama Rumi untuk beberapa tahun, dan banyak terpengaruh olehnya. Seorang wali terkenal lainny, Syeikh Shabuddin Suhrawardy, juga mengambil manfaat dari didikan Rumi. Syeikh Sa’di, penyair dan moralis Persia termasyhur, menururt pengarang Manaqib-ul-Aarfeen,  juga telah mengunjungi Rumi di Konya.
Jalaluddin Rumi meninggalkan dua karya yang memberi dia kemasyhuran, Diwan dan Mathnawi yang abadi. Diwan,yang berisi 50.000 bait, terutama lirik mistik, pernah dianggap sebagai gubahan guru kebatinannya Shams-I-Tabriz, karena nama guru itu berkali-kali digunakan pada bait-bait akhir. Bagian terbesar karya ini digubah Rumi sesudah menghilangnya guru kebatinan itu, sementara Rida Quli Khan menganggap bagian utama karya ini digubah dalam memperingati kematian yang sang guru. Menurut Nicholson, “Suatu bagian bari Diwan digubah ketika Shams-I-Tabriz masih hidup, kemungkinan bagian terbesarnya diguah kemudian.”
Lirik-lirik Maulana penuh dengan kejujuran dan keagungan, emosi yang dalam dan semangat melupakan, yang memberi ciri karya-karya penyair mistik Persia, termasuk Sanai dan Attar. Lirik ini bebas dari ornamentasi dan pasitivi (hiasan dan ketidakpedulian), seperti yang lazim pada lirik Salman Khakani,dan Anwari.
Itulah masa berkembangnya penyair-penyair madah (panegyrists) besar di Persia, begitu hebat hingga penyair-penyair sekaliber Sa’di dan Iraqi puin tak bisa menahan diri mencoba-coba menggubah syair-syair pujian.
Tetapi, Maulana Rumi mengelakkan diri dari keburukan sosial yang tumbuh ini. Dia membatasi puisinya pada penerjemahan jujur perasaannya yang sesungguhnya ke dalam syair. Naluri dengan kelimpahan perasaan, lirik-liriknya mempunyai pesona puitik yang kuat, yang mengangkat seseorang kedunia yang lebih tinggi. Di menggugah perasaan-perasaan manusia yang lebih tinggi dan mulia.
Dengan keruntuhan kekuasaan Seljuk di Persia, pelindung para penyair pun lenyap. Sejak itu penyair memberi perhatian yang lebih besar kepada lirik, sebaliknya dari syair pujian. Penyair-penyir yang memperhalus lirik, dan membuana menjadi wahan perasaan-perasaan yagn tulus, adalah Rumi Sa’di, dan Iraqi. Maulana sendiri seorang mistik eremashur, maka dia secara setia menggambarkan berbagai taraf dari cinta, yang telah dialaminya dalam hidupnya.   
                  Mathnawi, karyanya yang abadi, tak diragukan lagi adalah buku yang paling popular dalam bahasa Persia. Buku ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa Timur dan Barat, dan telah memberinya tempat terhormat di antara sedkit penyair abadi di dunia. Menurut  penul;is buku Majma-us-Safa, empat buah buku terbaik dalam bahasa Persia adalah Shahnam-I-Firdausi, Gulistan-I-Sadi, Mathnawi-I-Rumi dan Diwani-I-Hafiz tetapi karya Rumi Mathnawi dianggap paling popular dari semua. Sejak semula dia menjadi kesayangan kaum intelektual dan agamawan. Sejumlah ulasan telah ditulis tentang buku ini.
                   Karya Maulana yang terdiri dari 6 buku dan memuat 26.660 bait, dan diselesaikan dalam 10 tahun. Menurut pengarangnya, Mathnawi berisi, “Akar-akar agama dan penemuan kegaiban-kegaiban alam dan pengetahuan Ketuhanan”. (Pengantar bahasa Arab pada Buku I). “Di dalamnya terdapat sejumlah besar anekdot pengembaraan,” tulis Browne dalam Sejarah Literer Persia. “Juga mengenai banyak watak, yang agung maupun dan bermartaat, yang aneh-aneh, diselingi penyimpanagan-penyimpangan mistik dan teosofi. Bahkan watak yang paling sulit dimengerti, dalam kontras yang tajam dengan bagian-bagian penceritaan, sekalipun menampilkan beberapa gaya ucapan yang pelik, bisa ditulisnya dalam bahasa yang sederhana dan terang. “Buku itu luar biasa, dibuka dengan spontan, tanpa lagu-lagu pujian (zikir) yang lazim, hanya dengan bagian yang indah dan terkenal, diterjemahkan oleh Almarhum Profesor E.H. Palmer dengan judul Nyanyian Buluh.
          Mathwani (sajak naratif yang panjang) sebagai bentuk persajakan memulai kelahirannya dalam perlindungan Mahmud dari Ghaszani. Firdausi kemudian menjadikan bentuk ini sebagai wahana mengisahkan sejarah lama Persia dalam karyanya yang abadi, Shah Nama. Setelah itu, Hakim Sinai menulis Hadiqa, syair mistik pertama dalam bahasa Persia, kemudian diikuti oleh Khwaja Fariduddin Attar, dengan menulis beberapa Mathwani yang penuh dengan pemikiran mistik. Tetapi, Mathnawi Jalaluddin Rumi yang menandai klimaks persajakan puitik mistik, dan termasuk dalam syair-syair abadi di dunia.
                   Di antara faktor yang mendukung popularitas karya padu yang tiada tertandingi ini adalah keagungan pikiran dan kehalusan kumpulan gagasan, yang disajakkan dengan cara sederhana luar biasa, hampir-hampir tidak ditemukan dalam bahasa lain. Nilai-nilai etik dan mistiknya dengan indah diungkapkan melalui kisah-kisah yang cerdas, dan perumpamaan-perumpamaan yang diambil dari kehidupan sehai-hari. Cara Malauna menerangkan problem-problem etik dan mistik yang berseluk-beluk itu, melalui cerita-cerita yang realistis, cukup menunjukkan bahwa ia mempunyai wawasan yang tajam kedalam rahasia-rahasia watak manusia. Bersama dia, seni mengajarkan moralitas melalui cerita, seperti dalam kehidupan sebenarnya, telah mencapai puncaknya. Dia menunjukkan sifat-sifat yang sebenarnya, telah mnecapai puncaknya. Dia menunjukkan sifat-sifat buruk manusia yang tersembunyi dengan cara sedemikian rupa, sehingga orang merasa telah mengetahui hal itu sebelumnya.
                   Ciri pokok syairnya adalah keagungan pikiran dan kesederhanaan serta spontanitas penyajiaannya. Sebaliknya dari pesimisme dan kehidupan pasrah, seperti yang diperaktekkan dan dikhotbahkan oleh kaum mistik secara umum, Maulana mengajarkan optimiseme yang sehat, dan suatu kehidupan yang penuh denagan ekegiatan. Dalam salah satu ceritanya, di  mempertahankan, bahwa kepercayaan diri sendirilah yang dimaksud oleh majikan ketika memberikan pacul ke tangan seorang buruh. Dengan cara yang sama pula Tuhan memberi kita tangan dan kaki, dan ingin agar kita menggunakan pemberian Tuhan itu. Sebab itu, hidup menolak dunia dan pasrah sesungguhnya bertentangan dengan kemauan Tuhan. Islam mengajarkan, seseorang harus berusaha sebaik-baiknya dan menyerahkan keputusannya kepada-Nya.
                   Sebelum bertemu dengan Shams-I-Tabriz, Maulana menjalani kehidupan semarak dan penuh kemegahan. Kemana saja ia pergi, dia diiringi oleh sejumlah besar pengikut dan murid. Sesudah itu dia menghabiskan waktunya dalam doa dan renungan. Biasanya di menghabiskan seluruh malam dengan shalat.
                   Dia sangat berprikemanusiaan dan pemurah. Penguasa-penguasa negeri tetangga dan orang-orang istananya mengirimkan hadiah-hadiah berharga, yang biasanya disedekahkan secara merata oleh Rumi di antara kaum miskin. Jika tidak ada makanan di rumhahnya, dia malah senang sekali malah berkata, “Hari ini rumah kita serupa dengan rumah para wali.” Dia begitu pemurah, sehingga bisa menawarkan apa yang lekat di badannya kepada seseorang yang memerlukan.
                   Dia menjauhi pergaulan dengan para penguasa dan orang istana. Para penguasa dan para mentri saling bersaing untuk menjadi orang yang disenangi oleh Rumi. Mereka sewaktu-waktu mengunjungi Maulana, tapi dia selalu mengelak sedapat mungkin.
                   Jalaluddin konon diberkahi dengan kekuatan ghaib sejak masa kanaknya. Tentang hal itu,  ada anekdot sebagai beriktu:
                   Sebagai anak kecil berumur 11 tahun, pada suatu hari Rumi bermain-main dengan teman-temannya di atas atap rumahnya. Rumi menganjurkan mereka sebaiknya pindah ke rumah depan, dan meneruskan bermain di sana. Tapi, dia sendiri tak mau turun  bersama merea, dan mengatakan bahwa dia akan melompat kerumah depan, sekalipun ada jalan yang lebar di antara kedua rumah itu. Itu lebih baik dari pada menuruni tangga. “Bagaimana hal itu mugkin? Kalau bukan jin, dan kau pun tak mempunyai lampu Aladdin untuk membawa kau keseberang melalui atap,” teriak teman-temannya. Ketika mereka sampai ke atap di seberang jalan itu, teman-temannya tercengang menemui Rumi sudah di sana.
                  Jalaluddin wafat pada 1273 M, dan dimakamkan dalam makam besar yang dibangun melingkupi kuburan ayanya di Konya, oleh Alauddin Kaikobad, penguasa Seljuk. Rakyat dari segala golongan dan lapisan mengantarkan jenazahnya, menangis dan meratap. Orang-orang Kristen dan Yahudi membacakan kitab-kitab mereka. Raja Seljuk, yang ikut mengantarkan jenazahnya, bertanya kepada orang-orang ini, apa hubungan mereka dengan Maulana yang shaleh itu. Mereka menjawab, “Jika yang meniggal ini sekiranya sama dengan Muhammad saw bagi Anda, maka dia bagi kami seumpama Kristus dan Musa.” Seluruh penduduk keluar untuk memberikan penghormatan terakhir pada orang suci yang berangkat itu.
                  Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair penting, seorang sufi  termasyhur, dan atas segalanya, seorang besar. “Dia tak diragukan lagi adalah penyair Sufi yang paling ulung, yang telah dilahirkan Persia,” tulis Browne, “sementara karya mistiknya Mathawani pantas mendapat tempat di antara puisi besar segala zaman.”

Al-Quran Sebagai Sumber Hukum Umat Islam


Kebenaran Hukum Al-Quran

Al-Qur’an adalah sumber hukum yang paling utama, dengan kata lain, al-Qur’an menempati posisi awal dari tertib sumber hukum dalam berhujjah. Safi’ Hasan Abi Thalib[1] menegaskan : “Al-Qur’an dipandang sebagai sumber utama bagi hukum-hukum syari’at. Adapun sumber-sumber lainnya adalah sumber yang menyertai dan bahkan cabang dari al-Qur’an. Dan dari sini, jelas bahwa al-Qur’an menempati posisi utama dalam berargumentasi, tidak boleh pindah kepada yang lain kecuali apabila tidak ditemukan di dalamnya.”[2] Al-Ghazali bahkan mengatakan , pada hakikatnya sumber hukum itu satu, yaitu firman Allah SWT. Sebab sabda Rasulullah bukanlah hukum, tetapi sabda beliau merupakan pemberitaan tentang bermacam-macam hukum Allah SWT.[3] Dengan demikian, jelas bahwa al-Qur’an adalah wahyu yang menjadi sumber utama dalam melakukan istinbath hukum. Tidak seorang pun ulama dan umat Islam yang membantahnya.

  • Safi Hasan Abu Talib, Tatbiq al-Syari’ah al-Islamiyah fi al-Bilad al-Arabiyah, Kairo : Dar al-Nahdah al-Arabiyah, Cet. III, 1990, 63-64.
  • Aslinya: يعتبر القران المصدر الاول الاحكام الشرعية اما بقية المصادر فهى تابعة له ومتفرعة عنه ومن ثم يحتل المرتبة الاولى فى الاستبدال فلا يجوز العدول عنه الى غيره الا اذا خلا من حكم للحالة المعروضة
  • Al-Ghazali, al-Mustasfa Min ‘Ilmi al-Ushul, Mesir : Maktabah al-Jumdiyah, 1971, hal. 118.

Sabtu, 31 Mei 2014

Penjelasan HaditsTentang Dendam

Hadits Abudaud 4251

حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ حَمَّادٍ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ بَشِيرِ بْنِ الْمُحَرَّرِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ أَنَّهُ قَالَ بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ وَمَعَهُ أَصْحَابُهُ وَقَعَ رَجُلٌ بِأَبِي بَكْرٍ فَآذَاهُ فَصَمَتَ عَنْهُ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ آذَاهُ الثَّانِيَةَ فَصَمَتَ عَنْهُ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ آذَاهُ الثَّالِثَةَ فَانْتَصَرَ مِنْهُ أَبُو بَكْرٍ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ حِينَ انْتَصَرَ أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَوَجَدْتَ عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَزَلَ مَلَكٌ مِنْ السَّمَاءِ يُكَذِّبُهُ بِمَا قَالَ لَكَ فَلَمَّا انْتَصَرْتَ وَقَعَ الشَّيْطَانُ فَلَمْ أَكُنْ لِأَجْلِسَ إِذْ وَقَعَ الشَّيْطَانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا كَانَ يَسُبُّ أَبَا بَكْرٍ وَسَاقَ نَحْوَهُ قَالَ أَبُو دَاوُد وَكَذَلِكَ رَوَاهُ صَفْوَانُ بْنُ عِيسَى عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ كَمَا قَالَ سُفْيَانُ
tidak mungkin aku ikut duduk jika setan sudah berperan. Telah menceritakan kepada kami Abdul A'la bin Hammad telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Ajlan dari Said bin Abi Said dari Abu Hurairah bahwasanya ada seorang laki-laki yg mencela Abu Bakar…-maka ia menceritakan seperti hadits di atas-, Abu Daud berkata; begitu juga Shafwan bin Isa meriwayatkannya dari Ibnu Ajlan sebagaimana yg telah disebutkan oleh Sufyan. [HR. Abudaud No.4251].

Hadits Abudaud 4252

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي ح و حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ مَيْسَرَةَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ مُعَاذٍ الْمَعْنَى وَاحِدٌ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ قَالَ كُنْتُ أَسْأَلُ عَنْ الِانْتِصَارِ { وَلَمَنْ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ } فَحَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ عَنْ أُمِّ مُحَمَّدٍ امْرَأَةِ أَبِيهِ قَالَ ابْنُ عَوْنٍ وَزَعَمُوا أَنَّهَا كَانَتْ تَدْخُلُ عَلَى أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ قَالَتْ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَنَا زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ فَجَعَلَ يَصْنَعُ شَيْئًا بِيَدِهِ فَقُلْتُ بِيَدِهِ حَتَّى فَطَّنْتُهُ لَهَا فَأَمْسَكَ وَأَقْبَلَتْ زَيْنَبُ تَقَحَّمُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَنَهَاهَا فَأَبَتْ أَنْ تَنْتَهِيَ فَقَالَ لِعَائِشَةَ سُبِّيهَا فَسَبَّتْهَا فَغَلَبَتْهَا فَانْطَلَقَتْ زَيْنَبُ إِلَى عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَتْ إِنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَقَعَتْ بِكُمْ وَفَعَلَتْ فَجَاءَتْ فَاطِمَةُ فَقَالَ لَهَا إِنَّهَا حِبَّةُ أَبِيكِ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ فَانْصَرَفَتْ فَقَالَتْ لَهُمْ أَنِّي قُلْتُ لَهُ كَذَا وَكَذَا فَقَالَ لِي كَذَا وَكَذَا قَالَ وَجَاءَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ فِي ذَلِكَ
Silahkan engkau ganti mencelanya. 'Aisyah pun ganti mencelanya hingga membuat Zainab diam. Zainab kemudian pergi menemui Ali . Ia mengatakan, Sesungguhnya 'Aisyah telah mencela kalian (bani Hasyim) -dan Zainab juga dari bani Hasyim-. Fatimah lalu mendatangi Nabi untuk menyampaikan pesan Zainab, beliau pun berkata kepadanya: Demi Rabb pemilik Ka'bah, sesungguhnya 'Aisyah itu adl kekasih bapakmu. Fatimah lalu pergi menemui bani Hasyim & berkata, Aku telah menyampaikan kepada bapakku begini & begini, lalu beliau berkata kepadaku begini & begini. Perawi berkata, Ali kemudian mendatangi Nabi membicarakan persoalan tersebut. [HR. Abudaud No.4252].

Jumat, 30 Mei 2014

Hukuman bagi Orang Yang Suka Menfitnah menurut Islam

A'udzu billahi mina'sy-shaytani 'r-rajim Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. al-Hujurat: 6)

Kata-kata ini sebuah kebenaran, sebuah perintah untuk semua orang untuk digunakan, untuk mencek setiap berita buruk yang datang. Jika terjadi kebingungan dalam masyarakat karena berita buruk yang kalian dengar, dari orang yang korup, maka jangan membuat fitnah dan menyebarkan fitnah itu. Wahai manusia jika seseorang yang buruk (korup) datang kepadamu dengan berita yang buruk dan palsu yang dia bawa dan menuduh seseorang terhadap sesuatu yang tidak mereka lakukan, maka periksalah berita itu terlebih dahulu, karena dengan begitu maka kalian tidak akan terjatuh ke dalam dosa besar (fitnah), yaitu dosa fitnah karena kalian percaya terhadap berita buruk yang kalian dengar dari orang yang buruk itu dan turut menyebarkannya.

wa laa tajassasu wa laa yaghtab ba`dakum ba`da ayyuhibu ahadakum an yaakulu laham akhihi maytan.

Janganlah memata-matai saudaramu, dan janganlah kalian menjelek-jelekkan satu sama lain. Apakah kamu ingin memakan daging mentah, bangkai saudaramu yang sudah mati? Dan Allah tidak suka dengan hal itu. Laa yaghtab ba`dakum ba`da. Jangan menjelek-jelekkan satu sama lain, jangan bicara buruk tentang satu sama lain, karena dengan itu Allah akan menempatkan kalian di bawah hukumanNya dan mengambil seluruh hasanat (kebaikanmu) dan memberikan kebaikan amal ibadahmu kepada orang yang kalian dzalimi, dan mengambil keburukan dosa-dosa orang yang kalian dzalimi dan diberikan kepadamu.

Memfitnah hukumannya lebih berat dari ketidaktaatan. Fitnah akan menyebabkan hukuman yang lebih berat dari Allah. Allah swt menghukum lebih berat orang yang membuat fitnah daripada orang yang membuat dosa besar. Karena fitnah akan menciptakan kebingungan. Fitnah akan menciptakan situasi dimana banyak orang akan terjatuh dalam dosa fitnah itu tanpa mengetahui bahwa mereka telah jatuh kedalam perangkap setan, dan tidak ada jalan keluar bagi orang yang membuat fitnah. Tidak ada pengampunan bagi orang yang membuat fitnah. Itulah sebabnya Allah swt tidak suka dengan orang yang suka memfitnah.

Fitnah, ketika seseorang membuat fitnah, setelah itu terjadi maka orang percaya dan kemudian generasi baru yang datang, mereka pikir itu adalah kenyataan dan kebenaran maka kemudian situasi yang tercipta menjadi tidak ada yang berpikir bahwa cerita itu sebenarnya adalah fitnah. Jadi setelah 10-15 tahun orang-orang baru datang dan berpikir ini adalah realitas yang telah ditetapkan sebagai kebenaran, atau seseorang yang menuduh, mereka menganggap hal itu setelah beberapa waktu sebagai sebuah fakta kebenaran, tetapi pada kenyataannya adalah berita bohong. Maka tidak ada jalan keluar untuk mereka yang memfitnah, dan juga orang-orang yang menyebar fitnah, ini adalah Fatwaku, dosa orang yang memfitnah lebih besar dari dosa orang yang melakukan dosa besar.

Nabi (saw) berkata," Syafaa`ti li ahl al-kabaair min ummati, Syafaatku untuk orang yang melakukan dosa besar". Dan dari pemahaman hadits tersebut maka tidak akan ada syafa'at Nabi saw untuk orang-orang yang membuat fitnah. Sebagaimanba Iblis berada di bawah kutukan Allah swt, maka orang-orang yang membuat fitnah, mereka dikutuk seperti iblis. Jadi tidak ada yang bisa membawa orang keluar dari kutukan itu. Sebagaimana Nabi (saw) berkata, Fitna adalah tertidur dan Allah mengutuk orang yang membangunkan fitnah (menyebarkan fitnah). Itu untuk sesuatu yang benar terjadi. Lalu bagaimana dengan orang yang membuat sebuah cerita bohing dan menyebarkan kebohongan itu? Maka para pembuat fitnah berada di bawah kutukan Allah. Mereka menjadi seperti setan, tidak ada syafa'at baginya dan tidak ada syafa'at untuk setan.

Fitna itu tidur, maka jangan membangunkannya terutama bila fitnah itu baru sja terjadi. Ketika anda membangunkan fitnah, maka kau akan dikutuk. Dan berapa banyak dari kita mencoba untuk menyebarkan fitnah yang sebenarnya tidak ada dan itu tidak benar. Itulah sebabnya Sayyidina 'Ali (ra) berkata, tutup mulutmu, diam itu lebih baik. Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq (ra), beliau menaruh batu di mulutnya untuk tidak berbicara, karena segera setelah kalian berbicara, akan membuatmu terjatuh ke dalam fitnah. Jika kalian tidak berbicara tentang Islam atau tentang agama, maka kalian akan berbicara mengenai masalah dunia, maka dengan segera membuat kalian jatuh ke dalam fitnah.

Itulah sebabnya Allah swt ingin kita menjadi sadar, dan itulah sebabnya Dia mengatakan dalam Al Qur'an: Jangan menjelek-jelekkan satu sama lain. Lalu kalian akan menerima kutukan yang sama. Allah mengutuk orang yang membawa fitnah itu menyebar. Maka akan lebih baik untuk tetap diam di depan orang yang menyebar fitnah, karena Allah mengutuk orang yang membawa fintah keluar, kalian menjadi seperti Iblis. Jadi jika kalian bukan dari golongan Awliyaullah, dimana Allah swt berfirman: Awliya Allah, sesungguhnya mereka tidak ada rasa takut tidak juga mereka bersedih hati. Maka janganlah kalian terjatuh ke dalam fitnah.

Mengapa orang berkelahi satu sama lain? Karena fitnah dan gibah. Mereka berkelahi karena seseorang memfitnah orang yang tidak bersalah, sehingga mereka berkelahi. Jadi itulah sebabnya maka Nabi (saw) berkata, "Tanda orang munafik ada tiga,

(1) Ketika dia berbicara dia berdusta,
(2) Ketika dia dipercayai amanah ia mengkhianatimu. Berapa banyak kita mengkhianati satu sama lain. Kami mempercayakan mereka dengan rahasia kami dan mereka mengkhianatimu dengan membuka seluruh rahasia kita. Kami mempercayakan mereka dengan satu kata dan mereka mengkhianati kita.

(3). Jika dia berjanji, dia melanggar janjinya.

Bahkan jika dia mengklaim bahwa dia telah salat dan puasa, jika dia memfitnah dan menggunjing, maka dia akan dikutuk. Itu berarti bahwa seseorang yang munafik yang pikirannya hanya untuk membuat dan menyebarkan fitnah, bahkan senadainya kisah keburukan itu benar tetap kalian tidak diperbolehkan untuk menyebarkannya. Dan bagaimana dengan fitnah yang tidak benar? Allah (swt) mengatakan, bertabayunlah, periksalah, verifikasi lebih dahulu, dan jika Anda tidak memeriksanya kemudian percaya dan menyebarkannya, maka kau juga akan dikutuk karena telah membawa fitnah itu keluar.

Siapapun yang membuat fitnah, gibah dan mengguncing, maka dia tidak dapat masuk surga. Dia adalah orang yang bangkrut, bahkan jika ia berdoa dan puasa. Nabi saw bertanya kepada para sahabat, "Siapakah orang yang bangkrut?" Dan mereka berkata, "Mereka yang tidak memiliki kekayaan." Dan Nabi saw berkata, "Bukan itu, dia adalah orang yang tidak lagi memiliki amal ibadah." Dan mereka bertanya, "Bahkan jika mereke sudah mengerjakan salat dan puasa?" Dan Nabi (saw) berkata, "Bahkan jika dia salat dan puasa, karena seluruh perbuatan baiknya akan diberikan kepada mereka yang dia zalimi, dia fitnah dan gibah, bahkan perbuatan buruk orang yang dia fitnah dan dia tindas akan diberikan kepadanya."

Janganlah kalian memfitnah, karena bisa saja fitnah itu menjadi "Kisah Nyata yang Dianggap Orang Sebagai Kebenaran". Sehingga tidak dapat terhapus dari zaman ke zaman, padahal semua itu hanya berasal dari hasad, iri hati dan dengki. Jangan memecah belah persaudaraan dalam komunitas kalian dengan fitnah, jangan membuat umat terpecah, karena setan telah memasukkan kedalam hatimu untuk membuat fitnah dan memecah belah masyarakat.

Tanda orang Munafik, jika ia berbicara ia berbohong. Ada banyak sekali kebohongan saat ini. Bahkan di zaman Nabi (saw). Orang-orang Munafik mencoba menuduh Sayyidah Aisyah untuk membuat Nabi (saw) kesal dengannya. Dan Nabi (saw) tidak berbicara dengan Siti Aisyah sampai ada wahyu (berita) bahwa ia tidak bersalah datang dari langit. Dan Allah swt mengutus Malaikat Jibril (as) untuk memberikan kabar tentang kesucian Siti Aisyah ra. Hal itu adalah untuk mengajarkan kepada kita umatnya. Karena Nabi Muhammad (saw) sendiri sebenarnya sudah mengetahui fitnah ini, tetapi beliau tidak berbicara hanya untuk mengajarkan ummatnya.

Manusia sangat sulit untuk menahan dirinya untuk tidak menyebar fintah dan gosip, dan mereka senantiasa membuat fitnah dan gibah bahkan mereka mencoba untuk memfitnah orang-orang yang sangat dekat dengan Nabi (saw), yatitu Siti Aisyah ra, istri beliau saw. Dan Allah mengirim berita dari langit bahwa Siti Aisyah ra tidak bersalah. Mereka yang memfitnah ini adalah orang-orang munafik yang akan dihukum sangat keras. Apapun yang mereka lakukan, maka tidak ada ampunan bagi mereka. Sangat banyak orang Munafiq dari ummat hari ini. Ketika mereka berbicara mereka berdusta. Jika mereka bergibah dan melempar fitnah kepada seseorang, maka orang yang di fitnah tersebut tidak akan mengampuni mereka sampai mereka mengambil semua hasanaat, semua kebaikan dan amal ibadah orang yang memfitnah di Hari Mahsyar nanti (Hari Pengadilan).

Di Eropa didepan pintu pagar mereka banyak ditulis "Awas Ada Anjing!". Dan Mawlana Syekh Nazim qs dalam berbagai ceramahnya mengatakan, mengapa kalian hanya memasang peringatan,"Awas Ada Anjing" gantilah dengan "Awas Ada Setan". Saya hari ini mengatakan ambil dan tulis juga "Awas Orang-Orang Munafik" Karena begitu banyak manusia munafik hari ini, dan kalian tidak dapat mengenali mereka, karena mereka juga melakukan salat dan puasa. Nabi (saw) mengatakan jangan memfitnah dan gibah (gosip) karena kalian akan bangkrut dan tidak ada amal ibadah kalian yang tersisa.

Semoga Allah SWT mengampuni orang-orang munafiq ini dan membawa mereka kembali menjadi normal dan membuat mereka menyadari bahwa mereka telah menuduh secara salah orang yang tidak berdosa,yang mereka tuduh. Dan semoga Allah mengampuni mereka dan mengampuni kita semua dan semoga Allah menjauhkan mereka dari kebohongan dan menjauhkan kita dari kebohongan. dan semoga Allah memberikan kita semua agar diberikan kedamaian dan ketenangan.

Jumat, 23 Mei 2014

Bukti Kuasa Allah

Batang Tenggorokan Bukti KUASA ALLAH

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, وصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :
Struktur tenggorokan adalah contoh dari sistem yang sempurna dalam tubuh manusia.Dinding tenggorokan didukung oleh C-tulang rawan berbentuk cincin. Hal ini memungkinkan pergerakan ke arah yang berbeda.Jika pipa saluran udara hanya terbuat dari daging, maka kelembutan yang dihasilkan akan menyebabkan penyumbatan konstan, yang akan membuat kita sulit untuk bernapas.Jika terbuat dari sesuatu yang keras seperti tulang, maka gerakan kita sebagian besar akan terbatas.

Batang Tenggorokan Bukti Kuasa Allah

Namun struktur yang terdiri dari tulang rawan yang membentuk pipa saluran udara sangat cocok untuk semua jenis gerakan, dan selalu tetap terbuka karena fleksibilitasnya.

Ada lagi sistem yang sangat khusus tepat di pintu masuk ke batang tenggorokan. Sistem ini menyelamatkan hidup kita setiap kali kita memakan sesuatu. Bagaimana?

Kerongkongan dan batang tenggorok berdampingan di tenggorokan. Satu kemungkinan bahwa ketika memakan makanan akan terjebak dalam tenggorokan dan tercekik sendiri. Namun tidak demikian. Meskipun kita terus makan dan bernapas, makanan tidak pernah tersangkut dalam tenggorokan kita. Jadi apa yang melindungi kita ketika makan?

Ada lipatan kecil dari tulang rawan elastis yang disebut kelep lekum kanan di pintu masuk ke batang tenggorokan.

flap ini secara otomatis menutup pintu masuk ke tenggorokan saat menelan.

Selama ribuan makanan yang kita makan, dari masa bayi sampai saat ini, kita telah menelan puluhan ribu kali. Dan setiap kali flap kecil menutup jalan masuk ke tenggorokan kita di saat yang tepat. Meskipun kita tidak menyadari keberadaannya dan tidak mampu mengendalikan hal itu ,flap kecil telah menyelamatkan hidup kita dengan menutup pintu masuk ke tenggorokan Anda pada saat yang tepat.

Dengan tidak adanya sistem itu, seorang manusia akan tercekik saat pertama ia menggigit makanan. Ini adalah satu lagi bukti bahwa Allah menciptakan semua fitur yang dimiliki oleh manusia.

Kamis, 22 Mei 2014

Tujuan Manusia Lahir dan Hidup di Dunia

Dengan Nama ALLAH swt yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Semoga ALLAH swt. membimbing saya untuk menjelaskan “Apa tujuan & TUGAS hidup manusia diciptakan oleh ALLAH” yang tertulis dalam Al Quran Nur Karim. Sebagai buku pedoman hidup manusia.
.
Setiap manusia haruslah mengetahui siapa dirinya, kenapa dia dilahirkan, dan apa tujuan dan tugas2 hidupnya, berapa lama dia bisa hidup di dunia ini, dan kemana dia pergi setelah meninggalkan dunia ini?
.
Kalau manusia tidak bisa menjawab dengan benar, maka hidupnya seperti manusia yang hidup di hutan2 yang menutup auratnya dengan daun daunan. Mereka tidak berilmu.
Mereka tidak tahu tujuan&TUGAS hidupnya. Mereka menjalankan hidup seperti binatang saja yaitu kawin, beranak, dan kalau sudah dewasa anak di kawinkan lagi demikian seturusnya dan terakhir meninggal dunia.
.
Orang orang yang tinggal di kota pun banyak yang tidak mengetahui tujuan & TUGAS hidupnya. Ada yang mengatakan untuk mencari hidup yang bahagia, berkeluarga serta membesarkan dan mendidik anak2.
Mencari hidup yang bahagia juga bermacam macam;
ada yang bertapa, berzikir berjam jam di kamar yang gelap,ada yang hidup sederhana, ada yang mencari uang untuk memenuhi keinginannya, dll.
Apakah tujuan & TUGAS hidup mencari bahagia menutut ALLAH? Jawabannya adalah tidak.
Pendapat ulama2/usztad2 pun berbeda beda.
Ada sebahagian ulama mengatakan untuk mencari ALLAH atau mendekati diri kepada ALLAH dengan berzikir (memuji2 ALLAH) dlm kamar, dan bertapa.
Ada yang mengatakan untuk beribadah kepada ALLAH dengan menjalankan shalat, puasa,naik haji dan berzakat. Kalau rukun islam ini sudah dikerjakan,sudah merasa berislam yang benar. Mana yang benar cara2 demikian?
.
Untuk mendapatkan jawaban yang benar mari kita lihat Al quran yang di buat oleh ALLAH. Yang mana ALLAH juga menciptakan manusia, sudah tentu ALLAH lah yang Maha Tahu akan ciptaannya bukan?
Dalam AL Quran ALLAH telah dijelaskan dengan detail dan sempurna.
,
Selama ini kita sering mendengar dari ulama2 yang menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada ALLAH sebagaimana ayat QS 51:56 menjelaskan.
“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”
.
Beribadah (worship) kepada ALLAH diartikan menyembah(shalat) kepada ALLAH, berpuasa, naik haji, berbuat kebaikan2 dll.Kalau sudah menjalankan rukun islam ini(ritual), maka mereka sudah merasa beragama dengan benar.
Sesungguhnya bukanlah demikian menurut ALLAH. Penjelasan seperti diatas itu belumlah sempurna, sehingga hasilnya pun juga tidak sempurna. Seperti kita lihat masarakat islam sekarang ini yang masih terbelakang.
.
Beribadah kepada ALLAH bukanlah menyembah ALLAH saja, bukan menjalankan rukun islam yang lima saja, dan berbuat kebajikan saja, tetapi maknanya jauh dari itu.
Kalau diartikan seperti diatas ini,maka kita lihat hasilnya adalah masarakat yang tidak produktif alias miskin.Sangat menyedihkan bukan?
.
Beribadah kepada ALLAH SWT artinya mengabdi atau bekerja untuk ALLAH dengan sungguh2.
ALLAH adalah Raja di Raja di bumi dan dilangit ini. Sebagai hamba2 atau pekerja2 (kariawan2) ALLAH,maka manusia seharusnya patuh dan taat mengikuti semua peraturan2 ALLAH bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berkerja di dunia ini.
.
Semua peraturan2 ALLAH itu tertulis dalam kitab2 sucinya; Taurat,injil dan AL Quran. Al Quran adalah buku pedoman hidup manusia yang terakir, dan sempurna.
.
Kita sudahtahu apa tujuan hidup kita yaitu mengabdi atau bekerja untuk ALLAH.
Mari kita lihat pula dalam AL Quran,apakah tugas2 hidup manusia di bumi ini sebagi pekerja2 dari ALLAH?
Jadi ada dua macam; satu tujuan hidup, dan kedua adalah tugas hidup;
Inilah[b] tugas hidup manusia seperti ALLAH mengatakan sebagai berikuti;[/b]
“Dialah yang telah menciptakan kamu dari bumi (tanah), dan menjadikan kamu pemakmurnya. (QS.11:61). (menghuni dan mengolah hasil bumi untuk kemakmuran umat manusia, kalau mengingkari perintah ALLAH ini, hidup manusia seperti manusia di hutan2 sama dengan kehidupan bintang.). .
Perintah bekerja untuk memakmurkan bumi, sudah diperintahkan sebelumnya oleh ALLAH kepada Nabi Adam yang diberitahukan kepada Nabi Musa (Taurat) seperti berikut ini;
God said to Adam.
•God said; “You will have to work hard and sweat to make the soil produce anything, until you go back to the soil from which you were formed. You were made from the soil, and you will become soil again” (Genesis 3.18-19.).
Perintah ALLAH kepada Nabi Adam, Nabi Musa, dan Muhammad saw adalah sama yaitu manusia yang diciptakan oleh ALLAH ini harus bekerja keras,sungguh2 untuk memakmurkan bumi, artinya memakmurkan keluarga,masarakat dan umat.
Nanti setiap manusia akan diminta pertanggung jawaban. Siapa yang rajin bekerja untuk ALLAH dan siapa2 yang malas malas bekerja untuk ALLAH.
Anda dapat melihat manusia2 yang tidak mempunyai ilmu, tidak mempunyai (Diin) buku pedoman hidup dari ALLAH, seperti manusia2 yang tinggal di hutan2.
Baju mereka masih terbuat dari daun2 untuk menutupi auratnya, dan tempat tinggal juga terbuat dari daun2 untuk melindungi dari hujan dan panas.
Sampai hari ini kita masih dapat melihat manusia2 yang tidak mendapat ilmu di hutan2. Dari satu generasi ke negerasi berikutnya. Sudah ribuan tahun mereka tetap tidak mempunayi ilmu untuk membangun pradapan yang islam yang maju,modren
Seperti kehidupan Nabi Adam dan Hawa yang menutup auratnya dari daun2 bukan?

Sebagai kariawan2 yang baik atau hamba2 ALLAH yang baik maka kita wajib memakmurkan atau mengolah bahan2 baku yang diberikan oleh ALLAH itu baik yang ada di dalam bumi maupun di kulit bumi.
Siapa2 yang tidak mau mengikuti perintah ALLAH ini, mereka tetap hidup seperti orang2 yang tinggal di hutan2 itu dan kalau ada yang tinggal di kota2 mereka pada umumnya hidupnya tidak produktif,miskin, karena mereka tidak mempunyai ilmu dan tidak tahu apa TUGAS hidupnya seperti yang dimaksud oleh ALLAH.

Mereka hidup bermalas malas atau hidup ber-santai2. Tugas hidup mereka adalah untuk mencari makan secukupnya, dan kemudian kalau sudah dewasa berkeluarga, beristri dan beranak. Menjalankan rukun islam yang lima.That is it.

Perintah2 ALLAH berikutnya kepada manusia adalah untuk mengolah bahan2 baku yang ada dalam bumi yang telah ALLAH sediakan berlimpah limpah agar bisa menjaga agama ALLAH.Perintah ini penting sekali,kalau tidak dilakukan maka umat islam mudah dikalahkan atau ditunduki atau di jajah oleh musuh2 islam.

Mohon di perhatikan perintah ALLAH ini dengan baik;
”Dan Kami ciptakan besi (dan perak, emas, almunium tembaga, minyak, dll) yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (untuk di-olah), dan supaya ALLAH swt mengetahui siapa yang menolong agama Nya (Islam) dan Rasul2 padahal ALLAH swt. tidak dilihatnya. (QS..57:25).

Setiap orang muslim yang patuh kepada Raja(ALLAH SWT) maka wajib bekerja keras mengolah bahan2 baku seperti; besi,perak, minyak, emas,tembaga, kayu2, pertanian, perikanan dll menjadi barang2 yang berguna untuk kehidupan manusia, mendirikan industri2 bermacam macam barang, dan membuat senjata2 untuk mempertahankan agama ALLAH dan Rasulullah saw dari serangan2 musuh.
Umat islamlah yang diperintah oleh ALLAH, bukan umat lain2nya.
.
Siapa2 yang tidak ikut memakmurkan bumi ALLAH artinya mereka mengingkari perintah ALLAH ini. Hidup mereka akan susah dan kalau terjadi peperangan mudah dikalahkan serta di jajah.
.
Bagaimana untuk mengolah , mendirikan industri2 membuat barang2 yang bermanfaat dan untuk membuat senjata kalau tidak mempunyai ilmu? Makanya ALLAH memerintahkan untuk menuntut dan belajar bermacam macam disiplin ilmu. Bukan belajar ilmu agama saja sebagaimana di artikan oleh sebahagian golongan umat islam.
Banyak ulama2/ustad2 mendirikan madrasah2, tanpa mengajarkan disiplin ilmu2 lainnya kepada murid2, sebagaimana yang terjadi di negara2 islam Saudi Arabia,Pakistan dll. Cara begini adalah salah kaprah,tidak sempurna.setengah2
Tangan2 dari murid2 yang tamatan madrasah2 menjadikan orang2 berilmu agama yang tidak produktif, tapi konsumtif.
Bagaimana mereka bisa mentaati perintah ALLAH diatas tadi. Bagaimana mereka bisa mempertahankan agama ALLAH, kalau tidak mempunyai ilmu2 lain2nya.
Sistem pendidikan seperti ini perlu diperbaiki oleh generasi muda2.
.
Inilah perintah ALLAH berikutnya;
“ALLAH akan meninggikan orang orang yang beriman di antara mu dan orang orang yang menuntut ilmu pengetahuan (belajar) beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.58:11)
Artinya kalau ALLAH mewajibkan umat islam belajar atau menuntut ilmu, maka umat Islam seharusnya pula membuat sekolah bukan?
Tidak mungkin belajar di luar dengan atap langit dan dipadang pasir. Dan untuk belajar harus ada sekolah, buku-tulis, pena, pencil, pengapus, bangku bangku, kapur, alat2 penerangan,tidak mungkin munulis di tanah dengan jari sebagai alat tulis bukan?
.
Untuk membuat buku2 tulis harus pula menanam pohon2kapas untuk bahan baku kertas dan kain baju, kemudian membuat fabrik kertas dan kain, serta alat2 transportasi; speda, mobil, dan seterusnya, dari bahan2 baku diberikan diatas tadiQS 57:25 .
Dengan kata lain umat islam harus belajar bermacam disiplin ilmu untuk bisa membuat industri kain untuk menutupi tubuh dan kertas, bisa membuat pena,pensil,alat penerang alat tranportsai, membuat senjata dll.
Setiap individu muslim harus bekerja keras dan menuntut ilmu sebanyk2nya,agar kehidupan individu musli kuat dan sehat.
Kalau keluarga sehat dan kuat ekonominya,maka bangsa juga kan kuat ekonominya. Jadi semua itu harus dimulai dari setiap muslim. Dari diri sendiri.
Yang akhirnya membawa umat islam kearah kemajuan2 dan memberikan lapangan kerja yang banyak untuk pemuda dan pemudi agar mereka dapat meningkatkan; kemakmuran, kesehteraan, keamanan, keharmonisan, dan akhirnya umat islam dapat hidup bahagia, aman sentosa.Indah sekali ajaran islam bukan? Umat islam menjadi umat yang produktif, producer, umat industri,pertanian yang bertaqwa kepada ALLAH.Umat rahmatan lil’alamin.

Jadi islam adalah ajaran2 yang membawa kemajuan2 dalam segala aspek penghidupan terutama bidang ekonomi, technologi dan Science.

Ulama2, Da’i2, kotip2, islamic scholars adalah orang2 yang tahu akan ilmu agama dan dekat dengan umatnya. Ulama2 adalah orang2 yang memberitahu ajaran2 islam kepada umat dan serta memberikan contoh bagaimana mengaplikasikan setiap perintah2 ALLAH itu dengan baik dan sempurna.
Ulama2 adalah tiang /tonggak kemajuan umat islam. Kalau ulama2 salah memahami ajaran2 islam,maka umat akan salah pula, kalau ulama2 benar memahami ajaran2 islam,maka umat menjadi umat yang benar pula,artinya umat menjadi umat yang maju ekonomi, technologi,banyak lapangan kerja tersedia.
Sekiranya ulama2 dapat menyampaikan apa tujuan hidup manusia yang sebenarnya menurut ALLAH kepada umat, maka pemuda2 islam akan belajar rajin dan bekerja sungguh2 untuk ALLAH dengan sebaik baiknya.

Kalaulah setiap muslim sudah mengetahui, maka setiap muslim akan takut (taqwa) kepada ALLAH kalau mereka tidak bekerja rajin dan sungguh2 untuk memakmurkan bumi ALLAH ini ALLAH akan marah kepada mereka.”….Sedangkan ALLAH Maha Melihat apa yang dikerjakannya(setiap waktu)”.QS.57:25.

Kemudian perintah ALLAH berikutnya adalah menjadi seorang Khalifah.
Orang2 yang beriman, berilmu dan sudah tahu cara bekerja untuk ALLAH yaitu memakmurkan bumi ini,maka dia diminta untuk menjadi seorang khalifah dalam masarakat.
Dia mengajak dan membimbing masarakat untuk bekerja rajin memakmurkan bumi ALLAH artinya memakmurkan masarakat, memberikan lapangan kerja kepada pemuda2 dan pemudi2, mendirikan sekolah2 bermacam disiplin ilmu agar setiap muslim bisa pula menjadi seorang khalifah atau pemimpin dalam kelompok2nya. Seperti yang dicontohkan oleh Aa Gym.
Inilah perintah ALLAH itu.
“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi”. (QS.35:39.)
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi ini”QS.2:30
Kesimpulan:
Tujuan hidup manusia di ciptakan oleh ALLAH sesuai dengan difenisi oleh ayat2 ALLAH tersebut dibawah ini;
  • QS.56″51.“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah(bekerja) kepada-Ku” Tugas hidup manusia di ciptakan oleh ALLAH sebagi berikut dibawah ini:
  • (QS.11:61). “Dialah yang telah menciptakan kamu dari bumi (tanah), dan menjadikan kamu pemakmurnya. (menghuni dan mengolah hasil bumi untuk kemakmuran umat manusia).
  • (QS..57:25).”Dan Kami ciptakan besi (dan perak, emas, almunium tembaga, minyak, dll) yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (untuk di-olah), dan supaya ALLAH mengetahui siapa yang menolong agama Nya (Islam) dan Rasul2 padahal Allah tidak dilihatnya.
  • ”.(QS.58:11)“ALLAH akan meninggikan orang orang yang beriman di antara mu dan orang orang yang menuntut ilmu pengetahuan (belajar) beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan
  • QS.2:30″Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi ini” “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi”. (QS.35:39.)
.
Demikianlah ALLAH memberitahukan, apa tujuan dan tugas hidup manusia di bumi ini menurut ALLAH yang menciptakan manusia.
.
Mudah2an kita sebagai pekerja2 atau hamba2 ALLAH yang baik,yang taat, maka marilah kita perbaharui niat dan tujuan hidup kita semoga kita semua mendapat kasih sayang , kepercaaan dan cinta ALLAH. Semoga hidup yang sekali ini akan sukses dan diberkahi oleh ALLAH.
.
Kalau kita cinta dan takut kepada ALLAH mari kita rajin2 belajar dan bekerja untuk mensejahterakan keluarga,masarakat dan umat islam pada umumnya agar umat2 lain dapat mencontoh cara hidup yang benar dari ALLAH.
.
Semoga penjelasan yang singkat ini dapat menggugah hati2 pemuda2 islam yang ingin melihat umat Islam berjaya kembali dalam segala aspek penghidupan.
Semoga masarakat islam menjadi masarakat Rahmatan lil’alamin buat kemanusian.Kalau benar itu datang dari ALLAH mohon di taati dengan baik,kalau salah itu datang dari saya karena kelamahan saya, mohon dikoreksi dan mohon maaf.
.
Jadi ajaran2 islam itu adalah indah sekali, ajaran2 yang membawa umat islam dan non islam kepada kemajuan2 dalam segala aspek penghidupan. Itulah ajaran ALLAH yang benar.
Sebaliknya ajaran2 yang mengatasnamakan islam tetapi tidak membawa umat menjadi sejahtera dan damai,maka pemahaman ajaran islam itu adalah salah kaprah.
.
Marilah saya ajak anda untuk berjuang menuju masarakat yang bermanfaat didunia berarti di akhirat. Berzikir, pikir dan ikhtiar
Keep your hands busy with works; keep your mouth busy with remembrance of Allah and leave inheritance as much as possible. Love your neighbor as you love yourself.
Hadist; Kamu belum beriman kepada Allah, kalau kamu belum mencintai tetangga kamu(baik islam maupun non islam)
wassalamu’alaikumm.wrwb.
 
Template designed by Liza Burhan